Rekaman [bergerak]

Sakri Ngadi

  • Nama Sakri Ngadi
  • Nama keluarga Ngadi
  • Tempat lahir district Saramacca (Suriname)
  • Tanggal lahir 24-1-1941

Ringkasan

Saya lahir di distrikt Saramacca, tahun 1941. Disana tidak lama, kemudian berpindah-pindah tempat. Orang tua saya kerja di perusahan bauksit, di Suralco, di Moengo. Saya sekolah disana sampai kelas 6, kemudian ikut mbah pulang ke Indonesia. Orang tua masih tinggal disana, karena orang tua itu rencananya berangkat dengan rombongan kedua.
Saya 3 bersaudara, jadi kita punya mbah, mbah ini bukan mbah kandung, jadi mbahnya hubungan jauhlah. Dulu mbah saya ini pernah ikut melihara ibu saya. Dulu tetangga gitu, ikut melihara jadi dianggap bapak ibu sendiri. Jadi mbah saya itu mau pulang kesini, dia tidak punya anak. Orang tua saya anaknya 3 kan, jadi tiga-tiganya itu ditanyain, siapa yang mau ikut mbah mulih Jawa. Kakak saya tidak mau, terus yang kecil perempuan, tidak mau juga. Tinggal saya. Saya bayangkan, kaya apa Indonesia ya, karena saya sudah belajar itu di sekolah, ilmu bumi waktu SD itu, pulau-pulau Jawa itu, masih hafal saya, Sumatera, jadi pulang kesini saya pengen tau kaya apa ini Indonesia. Sudah, saya ikut, aku pikir toh nanti ibu sama bapak kan nyusul. Jadi ada semacam pengen tau juga kayak apa gitu.
Seneng aja saya di kapal, kalau anak kecil kan biasa bandel-bandel. Saya punya kenalan di kapal. Yang kerja disitu. Kapal Langkuas itu kapal untuk naik haji, tapi juru masaknya itu orang-orang dari Jakarta, juru masak, juru laundry, itu datangkan orang-orang dari daerah sini. Saya kenal sama yang juru laundrynya itu. Saya pikir ini orang Jawa kok tidak bisa ngomong Jawa. Jadi sehari-hari saya kesitu, markas ke situ, dikasih roti segala macem sama dia tuh….
Sampai di Tongar, saya seneng saja. Saya umur 13, sama temen-temen seneng-seneng saja, jalan sana jalan sini, main bola gitu, tidak ada rasa sedih. Jadi Yayasan pulang ke tanah air itu, dia punya program, jadi setahu saya mereka akan mengadakan mekanisasi pertanian, cuma salah tempat, mereka bawa traktor dari sana, bawa generator, bawa mobil segala macam, maksudnya itu kan, tapi penempatannya mula-mula kan mau di Lampung, dimana tanahnya datar, bisa untuk irigasi, tapi ditempatkan di Tongar kan bergunung-gunung, berbukit-bukit, gimana irigasi bisa jalan… Jadi tahun pertama buka hutan orang-orang itu, tanam padi, tahun kedua sudah tidak subur tanahnya, iyalah tidak pakai pupuk, gagal lah usaha pertaniannya, padahal modalnya dibawa semua dari Suriname ke sini untuk itu, sampai pengurus Yayasan beberapa kali minta bantuan, pinjaman dari pemerintah transmigrasi. Pernah juga dibantu, ngasih pinjaman tapi gagal juga, karena lokasinya tidak cocok untuk pertanian. Semua dikerahkan kerja kan, digaji oleh Yayasan. Semua warga kerja, ada yang mbabat hutan, ada yang bikin papan dan itu membawa juga mesin penggrajian dari Suriname, orang nebang pohon langsung diggraji buat rumah, makanya rumahnya kaya rumah-rumah koboi di Amerika. Nah akhirnya digaji pula oleh Yayasan, tapi lama-lama tidak kuat, habis kan, paling setahun, terus yang kedua gimana? Orang-orang yang aslinya montir, clerk, suruh jadi petani ya tidak bisa, ya pada keluar dari Tongar , jadi sebetulnya miss management, bukan karena tidak pandai, tapi karena situasi lingkungannya yang tidak cocok.
[Migrasi dan Transnasionalisme]

Di Tongar sekolah SD. Kita SD kelas 6, terus kita masuk SMP kelas 1, tanpa ujian itu, maunya kelas 6 malah masuk SMP. Tidak tau gimana, Pak Sumopawiro itu yang ngusahakan, saya kelas 1, kelas 2, naik kelas 3 pecah itu PRRI. Kita tidak bisa sekolah. Waktu itu ada persatuan namanya PMS, Persatuan Murid Sekolah, jadi anak-anak SMP dan PMS, itu bikin kegiatan macem-macem, salah satunya kegiatan kita itu bikin tapioka, parut singkong itu, bikin tapioka, dijual. Kita walaupun tidak sekolah, yang member itu mengadakan les di antara kita saja. Siapa diantara kita yang menonjol gitu, ngasih les ke teman-temannya. Saya dapat jatah ngasih les aljabar, kita ngajarin teman-teman kita sendiri. Setiap sore kumpul, ngasih les, belajar, jadi walaupun tidak sekolah kita tetap belajar. Diantara satu angkatan yang ngasih pelajaran, saya ingat Pak Basar. Pak Basar itu ngasih ilmu ukur. Jadi seperti study club gitu, selama dua tahun, tahun 57 sampai 59. Saya ujian SMP itu di Jambi tahun 60, selama tiga tahun tidak sekolah.
Orang tua waktu itu tidak kerja, kita nganggur, nah itu kita iseng bikin areng, dijual, terus kita pernah juga mborong mbabat itu, ladang untuk menanam singkong, babat alang-alang. Yang ngasih pekerjaan itu Dinas Pertanian. Saya dan Pak Sarmuji berdua mbabat itu, borongan. Sudah selesai sebulan, terus cari lagi kerjaan lagi. Umur kita tujuh belasan. Jadi cari duit, bukan buat orang tua, untuk kebutuhan kita sendiri, karena tidak ada yang ngasih uang kan.
Setelah PRRI saya pindah ke Jambi, ikut sama bapaknya Istri saya. Dulu kan saya calon pacar gitu.
Di Jambi itu ada perusahaan milik orang Suriname, namanya PT Hidup Baru. Yang mendirikan PT Hidup Baru itu orang dari Tongar, dua orang bersaudara namanya Warto Kromoyahyo sama Wakijan Kromoyahyo. Dia di Tongar tidak lama, setahun dua tahun dia pergi ke Jambi, kerja sama BPM, minyak, terus dia dia keluar, mimpin perusahaan, semacam kontraktor. Dia bikin lapangan terbang, terus dia pergi kontrak di Kalimantan, di Balikpapan bikin highway, bikin kapal terbang di Kalimantan, nah bapaknya Istriku yang waktu itu salah satu direksinya. Saya kerja sama PT Hidup Baru ini, di bengkel, tapi buku-buku saya bawa, yang SMP baru kelas 2 itu, saya bawa semua, kita tinggal di asrama gitu. Kalau habis kerja, belajar saya. Begitu waktu ujian saya ikut daftar, terus saya ikut ujian, lulus. Tiga tahun tidak sekolah itu, saya lulus. Kan seneng mereka? Kamu sekolah lagi dapat beasiswa dari PT Hidup Baru, nanti kalau pulang mengelola perusahaan ini, semacam kader itu ya, bilangnya mereka. Saya pikir, wah ini masuk STM saya, biar gampang dapat kerjaan, lagipula saya kan dari montir, dari bengkel, masuk STM supaya kembali bisa mimpin ini, gitu ceritanya. Umur 18 tahun sudah hidup sendiri, tahun 60. STM nya di Solo, Surakarta, terus dikirim 3 orang, saya, Karno dan Rosmijan. Rosmijan ngambil listrik, Karno ngambil bangunan, saya ngambil mesin, jadi dibagi tiga. Satu lagi sudah berangkat dulu dia, namanya Sumadi, dia sudah kuliah di Solo. Sumadi ngambil arsitektur, nanti 4 orang ini kalau selesai, disuruh mengelola perusahaan. Setiap bulan dikirim uang dari PT Hidup Baru itu, jadi statusnya kan kerja, ikatan dinas, 3 tahun disana, jadi kehidupan di Solo saya hanya belajar saja, nggak ada apa-apa lagi.
[Buruh dan Wirausaha]

Pada waktu ada revolusi kemerdekaan dulu disini, itu gaungnya sampai ke Suriname. Orang-orangnya, bahkan kalau cerita dari satu-satunya orang Indonesia waktu itu tahun 48, 49, yang menjadi anggota parlemen di sana, namanya Pak Johannes Kariodimedjo, dia mengumpulkan bantuan dana untuk dikirim kesini, untuk bantu itu, revolusi, pakaian bekas, uang, segala macam. Jadi gaungnya sampai kesana, kemudian disana ada timbul pergerakan-pergerakan orang-orang Indonesia disana, pada ingin pulang, jadi mereka bikin partai, partai KTPI, Kaum Tani Indonesia, partai PBIS, semuanya dua-duanya tujuannya ingin pulang ke tanah air.
Pergerakan mau pulang, kita denger aja, itu kan hangat. Jadi adanya parta-partai kegiatan mereka itu menyolok, kayak disinilah, kayak seperti jaman-jaman kalau kita mau pemilu, ada gerakan-gerakan, seragam ini, disana ada dulu KTPI itu seragamnya item, banteng item, pakaian item, pakai peci, pakai keris, mereka itu jadi sering show off. PBIS termasuk lebih kurang kegiatannya, tapi lebih intelektual pemikirannya. Kalau KTPI itu modelnya kaya PDIP itu, misalnya ya, saya sering lihat juga, disana dulu kalau orang punya hajatan, kan nanggap tayuban namanya, tari-tarian itu, nah itu mereka muncul tuh, pakai hitam, nanti kalau yang bukan kelompoknya, tidak boleh masuk. Jadi yang namanya jaman-jaman itu, tahun 50, 51, 52, itu walaupun saudara kalau beda partai, udah putus hubungan. Politik sangat berpengaruh, saya ngalamin itu, politik itu kelihatan. Jangan nengok sana, itu anaknya orang KTPI itu, tapi anak-anak yo tidak peduli. Terus saling sindir mereka itu, ya ibu-ibu, ah apa itu KTPI, katepeok katanya, kalau orang KTPI bilang, apa itu PBIs, mbebeki katanya, sering bicara, itu konfrontasi ya, walaupun tidak ada fisik, tapi konfrontasinya jelas dan misalnya kamu anak orang KTPI, saya anak orang PBIS, pacaran [disuruh-red] putus, pisah, tidak bisa itu.
[Migrasi dan Transnasionalisme]

Awal mula paguyuban Suriname di Jakarta, masih belum banyak kita di Jakarta, masih beberapa lah, kalau tidak salah baru saya, pak Kariodimedjo sama anak-anaknya, kemudian Rosmidi, ada Sentot, ada Albert. Peristiwanya begini, ada yang sakit, meninggal, terus kita dikasih tau, terus kita layat gitu, akhirnya kita kumpul ditempatnya pak Kariodimedjo. Waktu itu pak Kario bilang gini, wah kita ini kan di Jakarta ada 20an orang, tapi sayang kalau misalnya ada saudara-saudara kita ada yang kesusahan, terus kita tidak tahu. Terus kita bikin suatu paguyuban, supaya kita ini kalau ada yang kesusahan, bisa saling bantu. Dari situ terus dibentuk paguyuban, ketuanya pak Kariodimedjo, terus pengurusnya, Rosmidi, saya, sama Albert, jadi berempat itu.
Itu tahun 80an itu. Berikutnya salah satu objek yang kita bantu, namanya pak Marlekan, jadi dia dari Suriname, dulu kaya raya dia di Suriname, pulang sama-sama kita, ke Tongar juga, tapi di Tongar cuma lewat saja terus dia pergi ke Surabaya, nemuin keluarganya. Belakangan ketemu kita di Jakarta. Pak Marlekan itu kerja di blok A, di bioskop, jaga bioskop malam itu dan kondisinya sudah nggak punya, dia rumahnya ngontrak, nah itu terus sampai dia kita bantu, sampai dia meninggal, kita bantu. Kita terus-terus sampai sekarang ada paguyuban Suriname ini, jadi dulu kita sistemnya iuran, tetapi ala kadarnya itu, kita ngumpulin uang, kalau ada yang kesusahan kita sumbangkan, kalau ada yang meninggal kita sumbang. Terus datang lagi teman-teman dari Pekanbaru, gabung, gabung, gabung jadi waktu itu angkatan pertama ketuanya pak Kariodimejo, terus yang kedua pak Sentot ketuanya, setelah itu Rosmidi, Rosmidi lama juga ada 5 tahun kali. Waktu itu sudah lebih banyak yang datang ke Jakarta, pensiunan dari Pekanbaru ke Jakarta semua. Tenaganya bertambah, nah waktu ityu diserahkan kepada Istri saya, semua pengurusnya perempuan. Mula-mula sebulan sekali arisan, pindah tempat, sana, ke keluarga ini, terus tidak begitu lama, 3 bulan sekali, terakhir tidak arisan, kumpul setahun 2 kali, ulang tahun Suriname, datang di Tongar kan, dulu setiap 5 Februari, sama halal bihalal digabung sama tahun baru dan natal kadang-kadang. Jadi setahun 2 kali, nah pada waktu kita kumpul, ditarikin iuran sukarela, datang dulu masing-masing bawa makanan, umpamanya bu Sakri jatahnya ayam goreng, sana sate, jadi semua ngumpul, dimakan rame-rame, jadi selalu begitu, tempatnya berpindah-pindah, yang paling besar siapa rumahnya, terus berpindah-pindah itu, terus belakangan udah mulai banyak anggotanya, tidak cukup kalau buat di rumah gitu, terus kita menyewa gedung. Kalau dulu waktu istri saya sistem kekeluargaan, kalau sistemnya sekarang dengan peungurus sekarang, sistem organisasi, resmi, ada visi misi, tetek bengek, tapi kita tidak kekeluargaan. Waktu 50 tahun orang Suriname kesini itu kita adakan peringatan agak besar-besaran.
Ini sejarah paguyuban, jadi ya untuk silaturrahim para warga, walaupun sebetulnya kita menghendaki yang generasi-generasi di bawah kita ini mau meneruskan, anak-anak saya, anak-anak dia, tapi kayanya tidak menarik, dulu pernah waktu awal-awal, jadi dulu kita bikin remaja, mereka bikin spesial acara sendiri gitu, anak-anak dari kita, saling kumpul. Tapi itu tidak berjalan lama. Jadi kalau kita nanti sudah tidak ada, ya sudah bubar, sudah tidak ada lagi paguyuban. Sekarang ini yang kayaknya masih ada ikatan emosional yang dari Suriname masih, tapi yang lahir disini, susah sih.
[Kegiatan sosial dan kesejahteraan]

Wawancara lengkap

Tanggal wawancara: 15-04-2010
Interviewer: Amorisa Wiratri dan Ayumi Malamassam
Seleksi dan susunan cuplikan: Hariette Mingoen



Fx. Sakri Ngadi_02_portrait_15-April_2010.jpg    Fx Sakri Ngadi_01_portrait_15_April_2010.jpg

Lokasi wawancara

  • Indonesia 1954 -
  • Suriname 1941 - 1954

Beri nilai wawancara ini

777 pemilih , id, Rating: 3.0 Rating_off Rating_off Rating_off Rating_off Rating_off