Rekaman [bergerak]

Antonius Dasimin Senawi

  • Nama Antonius Dasimin Senawi
  • Nama keluarga Senawi
  • Tempat lahir plantage Vreeland, Suriname
  • Tanggal lahir 1939

Ringkasan

Saya itu bersepuluh saudara, satu meninggal waktu bayi, tinggal sembilan. Pulang ke Indonesia, rombongan itu sembilan orang, tapi berhubung ada suatu hal. Mbakyu saya yang nomor tiga diculik sama pacarnya, jadi menjelang kurang beberapa hari dia diculik. Pergi ke poliklinik tidak pulang, tidak yang tahu dimana. Saya dikirim oleh bapak saya ke kota untuk nyari tapi tidak ketemu. Waktu saya mau ke Moengo atau ke Nickerie dilarang, “jangan pergi ini kapalnya sudah datang nanti kamu ketinggalan”. Jadi mbakyu saya ketinggalan satu. Bukan cuma itu, mbakyu ipe [ipar-red] saya, juga bukan diculik, diobati sama neneknya padahal waktu itu punya bayi . Jadi mas saya yang mbarep itu mau pulang ke Indonesia itu pamitan ke mertuanya, lha waktu mau kembali pulang dia sudah hilang, tidak tahu kemana. Kami heran, padahal seorang ibu kalau punya bayi kan kasihan bayinya, masa ditinggal gitu, kan harus nyusui. Dijopa japu, dikasih black magic. Anaknya mas saya dirawat oleh ibu saya. Jadi sampai besar itu manggil ibu saya itu ‘mak’, semestinya ‘nenek’. Sampai di Tongar dengan segala macam perjuangan di suatu bedeng yang 4x4 meter. Keluarganya banyak, saya kan dua kepala keluarga, mas saya yang sudah nikah sama bapak saya, jadi dapat dua pintu. Bagaimana ngakalinnya supaya muat barang-barang, peti-peti yang tadinya kita bawa dari sana itu. Bagaimana caranya? Gedeknya anyaman bambu, atapnya rombio, tidak ada plafon. Menghadap sini, menghadap sana, ungkur-ungkuran sama tetangga . Itu ceritanya dan itu kita tidak ada yang mengeluh. Saya lihat di Aceh kemarin [waktu tsunami-redaksi] dikasih rumah yang bagus gitu, yang bukan bedeng , masih pada mengeluh.
Walaupun kita ibaratnya orang-orang yang bukan sarjana, termasuk para pemimpin kita Pak Salikin Harjo dan stafnya, tapi mereka itu planningnya saya akui hebat. Karena apa? Rombongan pertama itu orang-orang terpilih, terpilih dalam arti untuk menciptakan suatu kehidupan di daerah baru. Ada tukang engineernya, ethok-ethoke engineernya padahal tidak ada title apa-apa, tukang listriknya, tukang kayunya, perawatnya, itu terpilih semua berangkat.
[Migrasi dan Transnasionalisme]

Saya tahun 53 sudah lulus SD. Saya di Suriname mau masuk sekolah teknik, tapi sudah keburu pulang ke Indonesia, tidak jadi. Jadi ceritanya di Tongar saya duduk, sesuai umur, di kelas 6 lagi, wong SMP pertama kalinya tidak ada. Sekolahnya SD itu juga darurat, terus diproses ke departemen P&K, didirikanlah SMP. Angkatan pertama SMP, kita tidak lewat ujian, langsung masuk SMP, kan ada yang sudah kelas 2 MULO waktu di Suriname. Mereka itu setahun dua tahun masuk SD, belajar bahasa Indonesia, tapi kita itu tidak ada rasa mengeluh. Dengan seadanya apa yang ada itu jalanlah, seneng sajalah waktu itu, makan juga apa adanya. Saya pergi nyari bibit singkong, jalan kaki ke Simpang Empat itu sudah 4 kilometer, tambah ke Bandarejo. Kalau membeli singkong, sak singkonge, sak batange, sak daune. Itu kita angkut ke Tongar. Itu bibit, modal kita hidup itu.
Dan hebatnya itu ya, ujian negara itu, bukan ujian kelas lokal, 100 persen lulus. Apa tidak hebat. Wong dusun. Sekarang ini di kota kok pada mengeluh kalau ujian negara, pada takut. Yang penting niatnya kita itu mau belajar, semangat belajar waktu itu…
Saya mau ujian, tapi PRRI meletus, perang saudara itu. Tidak jadi ujian tapi dapat surat keterangan tamat belajar SMP. Tapi saya terus, waktu sudah di Padang, pulang untuk melaksanakan ujian. Saya sudah di SMA kelas 2 itu, terus pulang ke Tongar, ujian, karena tidak punya ijazah kan, untuk istilahnya ekstramil.
[Latihan dan Pendidikan]

Saya ke Padang numpang di tempat Pak Samsui itu. Saya bingung, gimana ini, namanya dari dusun, surat keterangan tamat belajar, kekuatan apa yang bisa kita banggakan dengan surat ini. Saya dikenalkan dengan tentara suatu Batalyon Artileri serangan udara. Saya diterima di situ kebetulan memang perlu tenaga di bagian juru bayar. Mulailah saya bekerja disitu. Setelah saya kerja ini, pagi, pindahlah sekolah saya ke SMA Ganesha di tengah kota, SMA swasta, jadi pagi saya kerja, sore sekolah saya di SMA Ganesha ini. Dari segi ekonomi, saya waktu itu dapat minyak tanah 20 liter, beras, mentega, gaji SKnya itu 14 rupiah tiap hari, kan masih pegawai harian, tapi itu cukup waktu itu, cukup buat hidup. Kalau saya mikirkan, sudah cukup, sudah bisa buat hidup, bisa ngasih mbakyu, bisa membelikan kain ibu saya, dapet pembagian. Sudah seneng, tapi mikir-mikir pengen jadi pilot, pengen jadi macem-macem, keinginanya banyak. Berat itu kerja dan sekolah malam tapi saya kerjakan sampai dating peristiwa Irian Barat itu.
Waktu pembebasan Irian Barat, seluruh pasukan itu berangkat, tapi saya kebetulan mau ujian, jadi minta dispensasi sama komandan. Komandan bilang ‘oh kebetulan, kamu disini ngurusin ibu-ibu’, istri-istrinya serdadu-serdadu yang berangkat itu, ngurusi gajinya, ngurusin keperluan hidup mereka, karena suaminya berangkat semua. Saya ujian waktu itu. Saya lulus. Sebetulnya saya punya cita-cita mau masuk ABRI, angkatan darat. Sudah dites waktu itu di Ganting, rumah sakit tentara. Saya sudah tinggal berangkat, tapi saya punya adik perempuan sudah ikut saya waktu itu, saya sekolahkan dia di Santa Maria, pagi saya ngedrop dia dulu baru kerja. Kalau saya masuk ke AMN terus adik saya ini gimana, sama siapa, makannya gimana, wong dia ikut saya. Jadi saya kerja itu untuk bayar sekolah saya sendiri, bayar sekolah adik dan buat makan. Waktu itu saya umur-umur anak SMA. Akhirnya saya batalkan, masuklah saya ke kedokteran. Angka saya 20, ilmu pasti harusnya 21 tiga mata pelajaran, tidak bisa masuk kedokteran. Akhirnya masuklah fakultas pertanian setahun. Saya dengar-dengar di Jakarta ini ada perusahaan orang Suriname yang dari Jambi itu maju, namanya P.T. Hidup Baru Indonesia. Sudahlah baiknya ke Jakarta, kuliah sambil kerja di PT itu. Sampai di Jakarta PT nya sudah ambruk. Waduh gimana ini, ya udahlah luntang-lantung, terus kakak saya yang Mas Senawi itu kan sudah jadi pegawai di transmigrasi di jalan Juanda lah sekarang. Dulu waktu kerja di poliklinik [di Tongar-redaksi] dia sudah diangkat jadi pegawai negeri terus pindah ke Jakarta. Dia kerja disitu, sorenya dia kerja sebagai asistennya dokter mata di jalan Cemara. Dokter itu turunan India, dia dosen di UI. Dia bilang masuk UI saja. Benar saya sudah mendaftar di UI, gampang, ambil formulir. Waktu itu tidak pakai seperti sekarang, ujian nasional. Pulang naik bis, saya piker: apa iya ini, UI itu kan Universitas Indonesia yang prestisnya begitu tinggi, mahasiswanya juga orang kaya-kaya, lha aku tidak punya duit, modal dengkul mau masuk situ, mau gimana?...
Saya mau minta sama mas saya yang pegawai negeri itu. Tapi saya tahu pendapatannya. Mbakyu itu kalau akhir bulan dikasih duit itu nangis, buat nombokin utang di warung saja tidak cukup. Apa jawabnya mas saya itu, “terus aku kon nyolong?”. Padahal mas saya itu memegang gudang obat di Senen sana. Tinggi, gudang obat transmigrasi yang mau dikirim ke transmigrasi seluruh Indonesia, dia megang gudang obat untuk didistribusikan. Ngambil satu kardus terus dijual kan bisa itu, tapi dia prinsip dan jujur, tidak mau. Terus mbakyu jualan di blok A itu. Saya membantu dia. Dulu itu belum dibangun pasar blok A. Didepan pasar itu, dipinggir-pinggir jalan itu, ya jualan sayur, sembako lah. Nangis saya kalu dipikir itu, ngenes. Tapi kan halal, bukan suatu usaha yang jelek. Saya nglamar sana sini ditolak. Akhirnya ada secuil kabar di pojok koran Kompas, itu pangilan untuk melawar sebagai pegawai negeri, dapat pendidikan ini -ini . Saya melamar dites di Latuhaihari, dulu di jalan Krakatau. 2500 orang diterima untuk dites. Tesnya macem-macem, kalau lolos yang pertama, ikut tes berikutnya lagi, sampai 5 kali. Setiap kali itu nomorku nongol gitu. Akhirnya dari 2500, hanya 20 orang yang diterima, yang 5 itu dari tentara, dari ABRI, jadi kita sekolahnya campur sama ABRI juga. Nah akhirnya diterima, saya sekolah. Kita sudah jadi pegawai waktu sekolah itu, langsung diterima jadi pegawai negeri, dapat beras itu yang penting, 20 kg.
Adik saya yang sekolah di Padang tadi, begitu lulus SMP dia terus ikut saya ke Jakarta, sama orang yang namanya Suratinah, keturunan Suriname juga. Mereka masuk ke Carolus, sekolah perawat. Saya bersyukurlah bisa masuk Carolus, jadi tenanglah saya. Akhirnya dijalani pelan-pelan, berusaha belajar, segala macam. Saya kerja menjahit, sejak dari Padang. Di Jakarta juga dapat order. Waktu itu kan konfeksi belum banyak seperti sekarang, jadi orang masih jahit. Mas Sakri Ngadi itu celananya saya yang jahit. Dia dapat kiriman bahan dari Suriname, dibawa ke tempat saya, saya jahit, terus kita ke Mayestik minum Coca Cola.
Saya sekolah, sampai tahun 65. Akhirnya selesai sekolah, saya ndilalah dari 20 orang itu dari angkatan saya, saya termasuk yang pertama diberangkatkan ke luar negri, ke Pnom Penh, Kamboja. Tahun 67 saya sudah berangkat ke luar negeri yang tadinya di Tongar itu.
Udahlah di Pnom Penh itu, pura-puranya pasportnya diplomatik, punya kekebalan, membawa apapun tidak diperiksa. Hebat ya, wong dusun Tongar sekarang ke luar negeri punya imunitas yang Negara lain tidak boleh menyentuh. Coba apa tidak luar biasa itu. Saya hanya bisa bersyukur kok ya bisa itu. Pulang di rumah kadang mikir masak begini terus, tidak ada yang mendampingi, tapi saya kalau mau cari-cari dari angkatan saya sudah habis. Sudah tidak kebagian. Saya itu diultimatum sama pimpinan, tidak berangkat kalau tidak nikah, karena senior-senior kita dulu itu berangkat tidak nikah terus diluar negeri nikah dengan orang asing. Itu bahaya karena posisi kita, yang menikah tidak dilarang tapi harus keluar dari organisasi kita, karena ya semacam ada kerahasiaan negara lah.
Akhirnya saya berangkat. Waktu pulang, pak guru saya orang Solo, Pak Sartono yang mbantu. Sekarang masih ada, istrinya sudah meninggal. Nah itu cikal bakalnya saya kenalan, yang penting saya seiman, manusia normal, lengkap, tidak grumping, pendidikan minimal SMA lah, akhirnya kenal sama ibu ini, kebetulan Katolik jadi tidak masalah. Mau nikah dipanggil lagi saya suruh ke Vietnam. Perang Vietnam dulu, Indonesia terpilih sebagai anggota ICCS, International Committee Control gitu. Setelah perang Vietnam, Amerika mundur kita mensupervisi penarikan pasukan sama pelanggaran perjanjian.
Kita sudah mau nikah terus diundur setahun jadi 74 baru nikah. Untung tidak nyantel disana, pulang, nikah, tahun 75 berangkat lagi ke Hongaria, membawa bayi, anak saya yang mbarep yang lahir oktober 74 disini.
Di Hongaria empat tahun lebih. Reymond anak saya yang nomor dua lahir disana. Pulang membawa anak dua dan tahun 80 anak saya yang terakhir lahir disini. Pulang dari Hongaria itu saya beli rumah ini. Separo ngutang dari mas ipe saya yang di Belanda punya warung. Dari Budapest itu, berangkat lagi saya tugas buka perwakilan di Kenya, Nairobi.
Pulang dari Nairobi, sudah lunas, anak-anak sudah mulai sekolah. Di Nairobi, anak saya tiga-tiganya sekolah disana, disana kan negaranya masih miskin, masih terbelakang lah, sekolah lokal itu hanya untuk orang setempat, diplomat sekolahnya di international school bayarnya mahal. Waktu pulang, Diah sekolah di Strada sini, angkatan pertama SMP, Reymond di Santo Antonius, Titik di SD sini, angkanya merah semua, tidak bisa bahasa Indonesia, kasihan kadang-kadang, tapi itu hanya berjalan pada kwartal pertama saja, kwartal kedua ketiga sudah baik. Tenang-tenang disini dua tahun setengah, berangkat lagi , kali ini ke New York. New York saya baca di majalah, di suratkabar New York itu sangar. Saya pikir, wah saya itu anak tiga sekolahnya SMA,SMP,SD, nanti sampai disana transportasinya gimana, tempat tinggalnya gimana, dan saya tahu di New York itu bulan-bulan September ada namanya General Assembly, sidang umum PBB, itu hectic, tegang dan padat, semua orang sibuk. Saya sudah mengantisipasi itu. Pengganti saya yang mau pulang itu saya tanyai, tinggalnya dimana dan saya beli peta New York, saya lihat rumahnya, transportasinya, sekolahnya, sampai segitu saya selidiki biar disana saya tidak terganggu untuk antar jemput anak, karena anak saya tiga, beda-beda sekolahnya. Saya itu bener-bener stress waktu itu, mengatur keluarga sendiri, anak buah yang satu sakit kanker, belum punya mobil, masih naik subway. Subway juga harus belajar, kalau tidak keplantang kemana-mana wong jaringan subway di New York itu ruwet sekali. Saya datang September, punya mobil baru Desember, pulang itu jam 10 malam dari Manhattan, jalan kaki dulu masuk terowongan, ngeri lho itu black homeless-homeless itu. Akhir Desember punya mobil, tapi harus belajar rute dulu, tidak mesti langsung bias. Staff-staff pendahulu itu tidak ada yang nawari mau pulang bareng saya, tidak ada, sampai saya kaget. Saya tulis itu ke kantor pusat, ini kok bangsaku orang Indonesia yang sudah diluar negeri itu kok budayanya kebalik, kita keluar pintu sama, tahu saya orang baru, belum punya mobil, mas ayo bareng saya, tidak ada. Rupanya setelah saya selidiki semua orang-orang yang baru datang kesana itu kayak di plonco, saking pimpinananya itu juga demanding, mengharuskan laporannya ini itu, jadi mereka semuanya itu stress, terus terang saja, jadi tidak lihat kiri kanan lah. Keadaan di New York perwakilan RI di PBB itu keadaannya kayak gitu.
Pulang dari situ, habis itu penempatan ke Singapore, tahun 96 itu sampai tahun 2000, pulang terus pensiun beneran. Saya kepingin ke Suriname itu tidak kelakon waktu di New York. Itu kan deket, tapi mahal dari sana itu, karena flightnya itu jarang, itu yang bikin mahal. Saya diundang oleh teman saya itu, saya itu punya teman kaya sekali itu di Suriname itu, Willem Soediono.
Suka dukanya, tapi alhamdulillah masuk umur 71, bersyukur lah masih sehat walaupun sudah ada jantung, kena stroke, saya sebenarnya sudah stroke tahun 2007, tahun 2000 jantung dipasangi cincin, pembuluh darah saya buntu terus dipasangi cincin dalamnya supaya lancer. Tahun 2007 kena stroke sebelah, yang kena otak sebelah kiri maka akibatnya sebelah kanan, jadi saya kalau ngomong sering ada huruf-huruf yang ketinggalan, tapi masih kembali lagi bersyukur, kalau stroke total kan tidak bisa ngomong, jalan sudah diseret-seret. Punya duwit tidak kepingin makan, dulu tidak punya duwit kepingin makan; sekarang punya duwit mau beli daging kan sudah tidak boleh makan yang enak-enak. Anak saya belum ada yang mau nikah. Diah kan sudah 35, lebihlah, itu tadi disadvantagenya orang pindah-pindah, baru kenal orang ini pergi. Kalau datang kan tidak langsung kenalan kan, mungkin kalau kuliahnya disini kemungkinan ya sudah dapat ya.
Bersyukur lah saya tidak ada kata lain, bersyukur dan terima kasih, mensyukuri dulu kita ke Tongar masuk hutan, cari papan, kulit papan, sisa gergaji itu, dimakan pacet di Tongar itu bisa begini, tidak mimpi saya itu sampai di Jakarta.
[Buruh dan Wirausaha]

Di Suriname, saya tinggalnya di plantage Vreeland, itu seberangnya Domburg. Sekolahnya disitu cuma sampai SD, saya jalan kaki tiap pagi, cokoran. Kalau mau MULO, SMP itu harus ke kota, tidak ada di daerah itu.
Pekerjaan bapak saya itu petani, punya tanah, punya sawah itu 10 hektar. Dikelola itu 7,5, yang 2,5 hektar dibiarkan hutan, diambil kayunya, irigasinya rapi. Kalau butuh air bisa ditutup untuk sawahnya, kan lebar itu, kalau lagi jemur padi di Domburg itu, semua pelataran itu diborong sama bapak saya. Bapak saya itu termasuk punya disana itu. Ibu saya buta huruf, tahunya hanya angka duwit, tapi bapak saya bisa tulisan Jawa, hanacaraka, bisa tulisan Arab kan Muslim juga, bisa tulisan latin. Saya tidak tahu riwayat bapak saya kok bisa ngerti itu semua. Bapak jadi bestuur, itu pengurus partai dikampung di Vreeland, partai PBIS ya ini yang kita pulang ini, Pergerakan Bangsa Indonesia Suriname. Kalau 17 Agustus, bapak saya itu di kampung itu memasang bendera dikalungi kembang melati saking hormatnya sama bendera merah putih, saya inget itu, dikasih ronce kembang melati itu terus dikerek, di kampung itu. Malam bapak saya pakai kathok komprang disabuki itu keliling kampung.
Saya disana itu masih muda sudah babat sawah, seumur-umur itu belasan tahun itu, remaja itu sudah babat sawah. Bapak saya itu kalau ke kota tidak tanggung-tanggung, beli trasi 5 kilo, minyak tanah, minyak goreng, nah itu orang kampung itu mesti terus ngebon ke bapak saya itu. Sudah terkenal bapak saya itu. Jadi, mbah, paklik atau pakdhe saya minta trasi lah seprapat atau minyak goreng, minyak tanah, di catat tidak usah bayar. Membayarnya nanti kalau musim hujan, kalau mau babat sawah, atau musim nandur atau panen itu kan pada ngani-ani kan.
Saya inget kok, saya itu tiap jam 10 mesti ngirim, ibu-ibu yang pada ngani-ani itu ngirim sego pondoh untuk ngganjel biar tahan sampai jam 12. Sego pondoh itu nasi biasa terus dikasih kelapa terus dibikin kayak jadah dipotong-potong tapi bukan ketan, nasi kelapa terus ditumbuk-tumbuk. Ibu-ibu yang sedang bekerja itu, itu nyaur utangnya itu. Sawah yang 10 hektar itu, nah itu orang laki-lakinya ada 6 atau 8 sehari itu sudah bersih, rumputnya sudah dibabati, malam juga begitu, ngani-ani, panen gitu.
Bapak saya itu habis pulang dari sawah, terus habis sholat maghrib, metekreng sendiri di kursi, bangku lah, ada meja satu, ibu saya sudah ngasih kode ke mbakyu-mbakyu saya, bapak sudah siap, ladeni. Bapak makan sendiri, itu kolotnya. Bapak selesai baru dibawa ke dapur. Kita ngrumpi di dapur, berkomunikasi sama bapak tidak ada, apalagi berani manggil. Gitu bapak saya itu, pada ditakutin, adik-adiknya saja pada takut, ipar-iparnya juga. Adiknya bapak empat, perempuan semua. Bpak saya yang paling tua.
[Keluarga dan Asuhan]

Di sana makanan sehari-hari asli jawa, bahkan kadang-kadang saya suka berlawanan itu, karenaaslinya itu ya asli bener gitu. Saya suka sambal goreng, kadang-kadang tidak cocok sama istri saya, namanya sambal goreng kan kering, tidak ada airnya. Kalau sambel goreng disini kan pakai krecek, kalau ibu saya usus ayam, ati, ampela dipotong kecil-kecil terus kacang panjang dikasih cabe terus dimasak itu sambel goreng, bener-bener tidak ada aernya kering. Terus waluh, waluh kan kalau disini kan di kolak, kalau waluh ya di jangan, dipotong kecil-kecil dimasak biasa pakai ebi atau ikan garing buat penyedap, ya nyemek-nyemek itu ada kuahnya sedikit. Saya itu sampai diketawain, sebenarnya saya malu sama mertua. Mertua orang Solo , saya ini kan kadang bahasanya terbalik, membahasakan diri sendiri, tapi sebelumnya saya sudah cerita riwayat saya apa adanya. Kalau mau ya begini, saya tidak bisa kalau harus berubah, yang dibikin-bikin. Saya mulai tahu bahasa Jawa yang benar itu karena kerja di tentara, banyak teman orang Jawa dan mulai bergaul. Jadi ngomong Jawa ya sepotong-potong hati-hati campur bahasa Indonesia, ya begini ini, apa adanya ini, mau terima ya, kalau tidak ya gimana. Kalau di daerah istri saya di Ngawi, Paron, itu kan agak mirip-mirip sama saya.
Bahasanya itu hampir mirip sama orang Suriname.
Saya belum cerita kenapa ada Ngawi dan ada Solo. Istri saya lahir di Ngawi, besar, sekolah terus kerja di Solo, ikut wong tuo angkat. Jadi pak Siswopranoto itu bapak angkatnya tinggal di Solo, pegawai di P&K Semarang. Dia guru karawitan, jadi WK itu, wanita katolik di Solo itu yang ngajari pak Siswopranoto itu, sarjana itu. Kalau ibu orang biasa , itu ibu angkatnya, lah ibu biologisnya ada di desa Nepeh, Paron, 2 kilometer dari Paron. Saya suka kesana, rumahnya persis sama rumah saya di Suriname, ada rumah depan, belakang, ada senthong, pakai korden, luwengnya ada, pogo, naruh kayu, persis itu, saya pulang dari sawah sore kehujanan bajunya dijemur disamping luweng, di atas pogo, besoknya dipakai sudah kering bau sangit-sangit itu dipake malah sedep, jadi mirip, pattern-patternnya mirip, ada dapur, ya itu rumah ibu biologisnya dia itu. Malah gede, selebar ini kok bangunannya, tumpukan kayu-kayu, padi, masih gitu, drum tanah, luwengnya itu ada dua ditengah, wajanne dicantelke pogone diatasnya kayu biar kering, spesifik kaya ngono omahku, kayak gitu rumahku di Vreeland itu.
[Kebudayaan dan Identitas]

Wawancara lengkap

Tanggal wawancara: 9-04-2010
Wawancara: Amorisa Wiratri dan Ayumi Malamassam
Seleksi dan susunan cuplikan: Hariette Mingoen

Antonius dasimin Senawi_01_portrait_9 April_2010.jpg

Lokasi wawancara

  • Suriname 1939 - 1954
  • Indonesia 1954 - 1967
  • Cambodia 1967 - 1971
  • Indonesia 1972 - 1973
  • Vietnam 1973 - 1974
  • Indonesia 1974 - 1975
  • Hongaria 1975 - 1979
  • Indonesia 1979 - 1982
  • Kenya 1982 - 1987
  • Indonesia 1987 - 1989
  • USA 1989 - 1995
  • Singapore 1996 - 2000
  • Indonesia 2001 -

Beri nilai wawancara ini

864 pemilih , id, Rating: 3.0 Rating_off Rating_off Rating_off Rating_off Rating_off