Kebudayaan dan Identitas

Orang Jawa yang tiba di Suriname tidak hanya membawa bahasa dan adat istiadat mereka ke negara yang baru, namun juga kebudayaan mereka. Penciptaan ulang ungkapan budaya seperti wayang dan gamelan, didukung oleh pemerintah kolonial dan pemilik perkebunan di Suriname. Pada tahun 1903 misalnya, perkebunan Mariënburg membeli perangkat gamelan yang pertama. Juga disediakan tempat untuk mengadakan pertunjukan gamelan dan wayang. Setelah tiba di negeri Belanda, orang Jawa tetap mementingkan dipertahankannya kebudayaan dan jati diri mereka. Selain banyak organisasi Jawa, juga banyak individu yang berusaha untuk mempertahankan kebudayaan Jawa Suriname dan menurunkannya kepada generasi berikut. Di situs ini terdapat wawancara dengan beberapa orang yang mencoba mencapai tujuan tersebut.


Penari laki-laki Jawa Suriname di Suriname, 1955

Tema ini ditemukan dalam riwayat hidup:

Achmad Arievie Kasto Soetoredjo

Amin Ngoesman Soekatma (alias Oesje)

Antonius Dasiman Senawi

Bob Saradin

Djoeminadi Toemin

Giman Karto Sentono

Giman Kromodikoro

Haryanti Hardjo

Herman Dijo

Herman Martimin Kromosono 

Joesoef Ismaïl 

Juliette Surip

Legiman Kasan Mustar (alias Darman)

Marlene Sopawiro-Sapoen 

Matte Soemopawiro 

Mike Wardi

Ngadimin Saridjo

Nurman Pasaribu

Orlando Parmin Kromopawiro 

Poniyem 

Rita Tjien Fooh- Hardjomohamed

Robert Samuel Bosari

Saimin Redjosentono

Samingat

Sawal Karman

Siyem

Soedar Kartopawiro

Soehirman Patmo

Teguh Sastropawiro

Tuminah

Wagiman (Sato) Atmopawiro

Wim Soekarman Kromoredjo
 

 

 

Achmad_arievie_kasto_soetoredjo_08_portrait_18-april-2010

Achmad Arievie Kasto Soetoredjo

Pilihan untuk berangkat dari Suriname saya buat pada waktu Bouterse telah memegang kekuasaan. Pada waktu itu umur saya 22 tahun. Setiap kali...

Achmad_arievie_kasto_soetoredjo_08_portrait_18-april-2010

Achmad Arievie Kasto Soetoredjo

Pilihan untuk berangkat dari Suriname saya buat pada waktu Bouterse telah memegang kekuasaan. Pada waktu itu umur saya 22 tahun. Setiap kali...

Djoenerie

Achmad Djoeneri

Ik was 9 jaar toen Pater Spekman op bezoek kwam bij mijn opa, bij wie ik opgroeide. Pater Spekman sprak goed Javaans. Hij vroeg mijn opa...