Migrasi orang Jawa Suriname ke negeri Belanda

Pada waktu pemerintah Arron mengumumkan rencana untuk kemerdekaan Suriname pada tanggal 15 Februari 1974, ribuan orang Jawa mengambil keputusan untuk meninggalkan Suriname dan berangkat ke negeri Belanda. Mereka takut kelompok penduduk Kreol akan mendominasi mereka di republik yang akan datang. Bapak, anak laki, tetapi juga anak perempuan yang belum nikah, berangkat lebih dahulu untuk mencari tempat tinggal dan pekerjaan, supaya tidak susah untuk mendatangkan keluarga yang ditinggal. Tetapi ternyata tidak semudah itu untuk mendapat pekerjaan. Terutama generasi tua yang mengalami kesulitan karena tidak mempunyai latar belakang pendidikan dan kurang menguasai bahasa Belanda. Akhirnya, kebanyakan orang Jawa Suriname diterima di sektor industri, di dinas angkutan, perkunan dan pembersihan (kotamadya). Ada juga yang membuka warung atau perusahaan teknik. Akibat migrasi berantai yang terjadi dan kebijakan penyebaran yang dilaksanakan oleh pemerintah, terbentuk tiga konsentrasi tempat tinggal orang Jawa Suriname di negeri Belanda: di bagian utara (Leeuwarden, Groningen, Hoogezand-Sappemeer, Delfzijl), di propinsi Noord-Brabant (Den Bosch, Sint Michielsgestel, Tilburg) dan di daerah Randstad (Rotterdam, Den Haag, Zoetermeer, Amsterdam, Utrecht, Almere).

Pada tahun 1979-1982 terjadi gelombang migrasi orang Jawa Suriname yang kedua. Perjanjian yang disebut ‘Vestigingsovereenkomst’ berakhir pada tanggal 24 November 1980. Sampai dengan tanggal tersebut, semua orang Suriname memiliki kewarganegaraan Belanda. Oleh karena itu, mereka bebas untuk menetap di negeri Belanda, dengan syarat mempunyai perumahan dan pekerjaan yang pantas. Berakhirnya perjanjian tersebut menyebabkan gelombang migrasi yang baru. Gelombang ini diperkuat lagi oleh kudeta di bawah pimpinan sersan Desi Bouterse pada tanggal 25 Februari 1980 dan krisis ekonomi yang menyusul. Pada tahun 1999, Sociaal Cultureel Planbureau memperkirakan jumlah orang Jawa Suriname adalah 20.000 jiwa. Sejak itu, jumlah bertambah sampai 32.000 jiwa, terutama akibat kelahiran.


Ketibaan Rudy Moekïat Samiran di Schipol, Maret 1979

Sumber-sumber:
Grasveld Fons & Breunissen Klaas (1990), Ik ben een Javaan uit Suriname. Hilversum: Stichting Ideële Filmprodukties.
Mingoen, H.K. (2001), ‘Surinaamse Javanen in Nederland: organisatievorming en maatschappelijke participatie’, ongepubliceerd artikel.

Achmad_arievie_kasto_soetoredjo_08_portrait_18-april-2010

Achmad Arievie Kasto Soetoredjo

Pilihan untuk berangkat dari Suriname saya buat pada waktu Bouterse telah memegang kekuasaan. Pada waktu itu umur saya 22 tahun. Setiap kali...

Achmad_arievie_kasto_soetoredjo_08_portrait_18-april-2010

Achmad Arievie Kasto Soetoredjo

Pilihan untuk berangkat dari Suriname saya buat pada waktu Bouterse telah memegang kekuasaan. Pada waktu itu umur saya 22 tahun. Setiap kali...

Djoenerie

Achmad Djoeneri

Ik was 9 jaar toen Pater Spekman op bezoek kwam bij mijn opa, bij wie ik opgroeide. Pater Spekman sprak goed Javaans. Hij vroeg mijn opa...