Kelompok-kelompok perumahan orang berusia lanjut Jawa-Suriname di negeri Belanda

Kelompok orang Jawa-Suriname yang paling besar tiba di negeri Belanda dalam bulan-bulan sebelum atau sesudah kemandirian Suriname pada tanggal 25 November 1975. Pada waktu generasi pertama mulai berusia lanjut, di pertengahan tahun sembilan puluhan, pertanyaan di mana mereka ingin menghabiskan senja hidup mereka mulai menjadi aktuil. Atas prakarsa Hariëtte Mingoen, pada waktu itu ketua yayasan Rukun Budi Utama, dilakukan penyelidikan terhadap keadaan kehidupan dan keinginan-keinginan orang Jawa-Suriname yang tua akan perumahan. Bagian paling besar mereka sebenarnya paling suka menumpang tinggal pada anak-anak mereka, tetapi keadaan Belanda kurang cocok untuk itu. Hariëtte Mingoen mengambil inisiatif untuk mewujudkan dua komunitas tinggal (woongemeenschappen) bagi orang Jawa-Suriname yang tua di kota Den Haag. Pada bulan September 1977 bangunan-bangunan kelompok perumahan orang senior Bangun Trisno telah diserahkan. Pembukaan resmi terjadi pada tanggal 20 maart 1989. Kelompok perumahan orang senior Wisma Tunggal Karsa telah diserahkan pada 28 April 1990. Dari dua pusat kediaman ini dikoordinasi pekerjaan sosial dan perantaraan perawatan, diberikan penerangan dan diselenggarakan kegiatan-kegiatan sosial budaya termasuk peristiwa Ouderendag (Hari Orang Tua) tahunan.
Pada awal tahun 2002 penasehat orang berusia lanjut Rudy Samiran mulai menyelidiki kebutuhan-kebutuhan pemukiman orang-orang tua di Hoogezand. Ternyata dari kunjungan ke rumah mereka bahwa orang tua suka tinggal bersama. Terdorong oleh keberhasilan kelompok-kelompok perumahan di Den Haag Rudy Samiran mulai perundingan dengan gemeente Hoogezand.
Dilakukan penelitian terhadap kemungkinan pendirian bentuk kediaman Jawa-Suriname. Atas dasar hasil penelitian yang positif, pada tahun 2005 pembangunan komunitas tinggal dimulaikan yang terdiri dari 25 rumah, dan yang disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan kelompok. Kompleks pemukiman diserahkan pada bulan Agustus 2008. Kelompok perumahan senior diberikan nama Langkoeas, yaitu nama kapal yang pada tahun 1954 membawa kembali seribu orang Jawa ke Indonesia. Persatuan penghuni Rumah Bersama Hoogezand, menyelenggarakan beberapa kegiatan bagi orang tua sebagai gerak badan orang tua, berdansa dan berbagai aktifitas kebudayaan di bagian kota maupun di jalanan. Kegiatan itu terbuka bagi semua orang tua Hoogezand.

Sumber-sumber:
Djasmadi, L. (2008). ‘Routes naar een Javaans thuis in Nederland’, http://igitur-archive.library.uu.nl/student-theses/2008-0912-200844/Djasmadi.pdf
Mingoen, H.K. (1993). ‘Javaanse ouderen in Nederland’. Dalam: Ebbehout onder de zeespiegel: Maatschappelijke integratie van Surinaamse ouderen in Nederland. Utrecht: Stichting Landelijke Federatie van Welzijnsorganisaties voor Surinamers.
Pembicaraan dengan Rudy Samiran, penasehat orang lanjut usia di Hoogezand.

Achmad_arievie_kasto_soetoredjo_08_portrait_18-april-2010

Achmad Arievie Kasto Soetoredjo

Pilihan untuk berangkat dari Suriname saya buat pada waktu Bouterse telah memegang kekuasaan. Pada waktu itu umur saya 22 tahun. Setiap kali...

Achmad_arievie_kasto_soetoredjo_08_portrait_18-april-2010

Achmad Arievie Kasto Soetoredjo

Pilihan untuk berangkat dari Suriname saya buat pada waktu Bouterse telah memegang kekuasaan. Pada waktu itu umur saya 22 tahun. Setiap kali...

Djoenerie

Achmad Djoeneri

Ik was 9 jaar toen Pater Spekman op bezoek kwam bij mijn opa, bij wie ik opgroeide. Pater Spekman sprak goed Javaans. Hij vroeg mijn opa...