Migrasi Jawa ke Hoogezand-Sappemeer

Dalam bulan-bulan sebelum kemandirian Suriname pada tanggal 25 November 1975, migrasi orang Suriname ke negeri Belanda menjadi suatu eksodus yang massal. Banjir kolosal migran-migran menyebabkan pemerintah Belanda menggunakan kebijakan pemerataan. Bagi orang Suriname Jawa yang datang ke Belanda sesaat sebelum kemandirian inilah berarti bahwa mereka bukan hanya ditampung dalam kota-kota besar tetapi juga dalam pojok-pojok negeri Belanda. Suatu kelompok kira-kira seratus orang Surinama berasal Jawa ditampung di Hoogezand-Sappemeer. Kebanyakan mereka berasal dari Bakkie, suatu masyarakat Jawa desa pada tepi kanan sungai Commewijne. Terjadilah suatu migrasi rantai, dalam yang mana anggota-anggota keluarga saling menampung. Kebanyakan keluarga dari Bakkie menemukan tempat tinggal di rumah flat bertingkat sepuluh pada Donker Curtiusstraat. Orang menyebutkannya ‘Bakkieflat’. Pasti bagi kebanyakan orang Jawa Bakkieflat itu merupakan perbaikan dari sudut kenyamanan rumah: dindingnya dari beton bukan dari daun-daun palem atau kayu. Air tidak perlu ditimba dari sumur tetapi langsung keluar dari keran. Dan di Hoogezand orang tidak lagi tergantung dari kapal yang di desa Bakkie hanya berangkat sekali sehari dan makan waktu satu hari untuk mencapai Paramaribo. Tetapi bagi orang yang datang dari Bakkie jauh lebih sulit untuk secara emosionil menyesuaikan diri pada Hoogezand. Dibandingan desa mereka dulu dalam Hoogezand ketergantungan mereka pada anak-anak jauh lebih besar. Banyak di antara mereka tidak atau hampir tidak bercakap Belanda, yang mempersulit hubungan dengan orang Belanda asli. Untuk saling mendukun, orang Jawa mendirikan persatuan mereka sendiri yang bernama Sido Rukun. Dalam persatuan itu mereka dapat meneruskan kebiasaan-kebiasaan dan upacara-upacara yang dikenal mereka seperti menyelenggarakan pemberkatan pernikahan Jawa dan pemakaman atau menyelenggarakan slametan selama perayaan Idul Fitri.

Pada tahun 2010 kira-kira lima ratus orang Jawa tinggal di Hoogezand. Dari pemukim-pemukim Bakkieflat hanya angkatan tua yang ketinggalan sambil kaum remaja beranjak pergi ke sebelah Barat negeri mencari kerja. Pada tahun 2010 hanya tujuh orang tua dari angkatan paling tua masih hidup: enam janda dan satu duda. Dari mereka hanya tiga hidup secara mandiri di Bakkieflat. Umur mereka 72 sampai 84 tahun.

Sumber-sumber:
Breunissen, K. dan F. Grasveld (1990). 'Ik ben een Javaan uit Suriname'. Hilversum: Stichting Ideële filmproducties.
Percakapan dengan Rudy Samiran, penasehat orang lanjut usia di Hoogezand.
Kromopawiro, R.S., Bakkie, Reijnsdorp: ttp://www.javanenvansuriname.info/BANYUMILI_03_Reijnsdorp_Bakkie_district_Commewijne.htm

 

Achmad_arievie_kasto_soetoredjo_08_portrait_18-april-2010

Achmad Arievie Kasto Soetoredjo

Pilihan untuk berangkat dari Suriname saya buat pada waktu Bouterse telah memegang kekuasaan. Pada waktu itu umur saya 22 tahun. Setiap kali...

Achmad_arievie_kasto_soetoredjo_08_portrait_18-april-2010

Achmad Arievie Kasto Soetoredjo

Pilihan untuk berangkat dari Suriname saya buat pada waktu Bouterse telah memegang kekuasaan. Pada waktu itu umur saya 22 tahun. Setiap kali...

Djoenerie

Achmad Djoeneri

Ik was 9 jaar toen Pater Spekman op bezoek kwam bij mijn opa, bij wie ik opgroeide. Pater Spekman sprak goed Javaans. Hij vroeg mijn opa...