Kesenian Jawa-Suriname di negeri Belanda

Pada bulan oktober 2005, dalam rangka perayaan dan peringatan 115 tahun migrasi Jawa ,Stichting Rukun Budi Utama (RBU) bekerja sama dengan Stichting Comité Herdenking Javaanse Immigratie (STICHJI) menyelenggarakan pameran ‘Sporen in de kunst: beelden van traditie en vrijheid’ (‘Jejaj-jejak dalam kesenian: gambar-gambar tradisi dan kemerdekaan’). Dengan pameran ini para organisator ingin membeberkan perkembangan seni rupa kepada bagian Jawa masyarakat Suriname. Sembilan seniman perupa telah memamerkan karya-karya mereka. Lima di antara mereka, Soeki Irodikromo, Reinier Asmoredjo, Ardie Setropawiro, August Bohé dan Daniël Djojoatmo berasal dari Suriname. Empat seniman, René Tosari, Robert Bosari, Paul Irodikromo en Sato Atmopawiro, pada waktu itu tinggal di Belanda. Kelihatan di pameran bahwa dalam seni mereka para seniman khususnya ingin menjembatani latar belakang budaya Jawa mereka dan masyarakat sekitar. Yang juga menjadi jelas oleh pameran ialah bawha para seniman bukan hanya meninggalkan jejak mereka di Suriname tetapi juga di negeri Belanda. Robert Bosari misalnya adalah semiman termashyur di kota Lelystad dan pendorong Lelystad Kunstfestijn dan Lelystad Award. Sudah bertahun René Tosari berupaya bagi penghargaan dan bagi perwujudan suatu tempat sendiri seniman-seniman di Amsterdam bagian tenggara. Sato Atmopawiro juga beroperasi dari bagian tenggara kota Amsterdam. Paul Irodikromo tinggal di kota Den Haag. Semua seniman yang tinggal di negeri belanda ini mempunyai hubungan erat dengan Suriname dan bergiat sekali bagi pemasyarakatan dari seni dan dari masyarakat seniman di Suriname itu sendiri. Pendorong tersembunyi di belakang kolektivitas Waka Tjopu adalah Tosari. Paul Irodikromo sering mengambil bagian dalam pameran-pameran seni di Suriname, dan monumen penandaan 100 Tahun misi EBG (singkatan untuk Evangelische Broedergemeente) di antara orang-orang Jawa, yang didirikan di Boxel, adalah karya Robert Bosari.

Sato Atmopawiro (29 Maret, 2009)

Sumber-sumber:
Binnendijk, Chandra en Paul Faber (2005). Beeldende kunst in Suriname: De twintigste eeuw. Amsterdam: KIT.
Mingoen, H.K. (2005). ‘Javaanse-Surinamers in beeld met expositie Sporen in de kunst: Beelden van traditie en vrijheid’. Dalam: Redi Sabaku, 6(34), 20 oktober 2005.
Keterangan mengenai Sato Atmopawiro: http://www.bangsajawa-amsterdam.nl/index.php/home/nieuws/107-sato-een-javaanse-kunstenaar-in-de-bijlmer

 

Achmad_arievie_kasto_soetoredjo_08_portrait_18-april-2010

Achmad Arievie Kasto Soetoredjo

Pilihan untuk berangkat dari Suriname saya buat pada waktu Bouterse telah memegang kekuasaan. Pada waktu itu umur saya 22 tahun. Setiap kali...

Achmad_arievie_kasto_soetoredjo_08_portrait_18-april-2010

Achmad Arievie Kasto Soetoredjo

Pilihan untuk berangkat dari Suriname saya buat pada waktu Bouterse telah memegang kekuasaan. Pada waktu itu umur saya 22 tahun. Setiap kali...

Djoenerie

Achmad Djoeneri

Ik was 9 jaar toen Pater Spekman op bezoek kwam bij mijn opa, bij wie ik opgroeide. Pater Spekman sprak goed Javaans. Hij vroeg mijn opa...